Disebutkan di dalam hadits, bahwa tafakur sesaat adalah lebih baik daripada ibadah satu tahun. Dorongan untuk bertafakur, tadabur, berpikir, dan mengambil pelajaran dapat diketahui dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits. Tafakur adalah kunci untuk memperoleh cahaya, asas meminta pertolongan dan perangkap ilmu.
Keutamaan tafakur disebutkan Allah dalam bentuk pujian, “...dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran (3): 191)
Ibn ‘Abbas berkata kepaa suatu kaum, “Janganlah kamu memikirkan tentang Allah SWT.” Maka Nabi SAW bersabda, “Berpikirlah tentang penciptaan Allah, tetapi jangan kamu berpikir tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu mengukur-Nya,”
Al-Junaid ra., berkata, “Majelis yang paling mulia dan paling tinggi adalah duduk dengan memikirkan medan tauhid, hembusan angin makrifat, minum dengan gelas cinta dari lautan kasih dan pandangan dengan prasangka baik kepada Allah SWT.” Kemudian ia berkata, “Aduhai betapa agungnya majelis dan betapa lezatnya minuman. Bahagialah bagi orang yang dianugerahinya.”
Padahal sholat 5 waktu dan sejenisnya yang tergambar di benak kita tadi adalah baru "ibadah protokoler" saja yang memang wajib kita lakukan. Nah, di sana masih ada "ibadah ekstra" semisal sholat tahajjud, dhuha, puasa senin kamis,sedekah, umroh dan lain sebagainya. Bahkan ada "ibadah non formal" semacam dzikir, sholawat, menata hati dan niat, dan seterusnya.
Nah, di antara salah satu ibadah besar non formal yang mungkin jarang kita lakukan, atau bahkan luput dari perhatian kita adalah, TAFAKKUR, atau merenung, kontemplasi sekaligus refleksi. Sementara ini adalah ibadah yang paling ringan dan santai.
Tulisan ini ingin mengajak untuk
melakukan tafakur dengan cara banyak membaca dan mengetahui cara kerja
dari sistem alam. Dengan bertafakur, kita akan memperoleh dua hal
keuntungan yaitu pertama akan mendapat pahala ibadah dan kedua akan
memperoleh wawasan ilmu pengetahuan yang sangat berarti untuk menjalani
kehidupan di dunia. Jika selama ini kita mencari ilmu hanya untuk
pengembangan ilmu itu sendiri, lalu “sisanya” untuk kegiatan tafakur,
maka di masa mendatang, marilah kita belajar dengan niatan untuk
melakukan tafakur. Hasil temuan dari kegiatan tafakur, kita manfaatkan
untuk bekal kehidupan di dunia.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (Al Imran, 190-191).
Pernahkan kita sejenak merenung akan birunya langit? Semilirnya angin? Hijaunya daun? Segarnya air? Asinnya garam? Manisnya gula? Atau bahkan gurihnya buntut ikan mujair yang digoreng?
Pernahkan hati kita tergetar setelah melihat pohon yang berjejer sepanjang jalan? Indahnya bulan purnama? Dinginnya malam? Atau lucunya kucing?
Pernahkan bibir kita terucap "subhanalloh" setelah melihat,lantas memikirkan keajaiban-keajaiban itu? Merasakan sebuah ketenangan yang luar biasa memeluk lembut sanubari kita setelah meresapi semua itu? Ah, alangkah agungnya Engkau Ya Alloh, pernahkah begitu?
Saatnya kita menghidupkan kembali ibadah ini, tafakkur, agar jiwa kita selalu fresh dan teriluminasi, wallahu a'lam.

0 komentar:
Posting Komentar