Ditegaskan didalam ash-shahih dari Umm Habiibah bahwa Rasulullah Saw.
mendengarnya sedang berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, senangkanlah
aku dengan suamiku, Rasulullah; dengan saudaraku, Mu’awiyah; dan dengan
bapakku, Abu Sofyan.” Maka Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Engkau
memohon kepada Allah tentang rezeki yang telah dibagi dan ajal yang
telah ditetapkan. Tidak akan disegerakan sedikitpun darinya sebelum
waktunya dan tidak pula diakhirkan sedikitpun darinya sesudah tiba
waktunya. Kalau engkau memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu
daari siksaan di dalam kubur dan siksaan di dalam neraka, maka Allah
adalah pemberi pertolongan.”
Shadr ad-Diin al-Qunawi di
dalam bukunya, Pancaran Spiritual, telaah 40 hadis sufistik, menjelaskan
bahwa hadis di atas adalah hadis yang cukup sulit untuk kita pahami,
sebagaimana dijelaskan pula dalam hadis yang lain, ketika Rasulullah
Saw. bersabda, “Setiap sesuatu memiliki qadha dan qadar hingga orang
lemah dan orang cerdas.” Tidak ada seorang pun di antara para ulama yang
berbeda pendapat dalam hal bahwa ketentuan qadha dan qadar adalah
mencakup setiap sesuatu dan meliputi seluruh maujud (segala yang ada)
dan aspek-aspeknya berupa sifat, perbuatan, keadaan dan sebagainya.
Jadi, apa perbedaan sesuatu yang dilarang Nabi Saw. untuk didoakan dan
anjuran untuk mencari keselamatan dari siksaan neraka dan siksaan kubur?
Kita
ketahui bahwa hal-hal yang ditakdirkan itu mencakup dua aspek, yaitu:
aspek yang khusus mengenai hal-hal universal dan aspek yang khusus
mengenai hal-hal parsial. Hal-hal universal yang dikhususkan bagi
manusia telah dikabarkan oleh Nabi Saw. bahwa hal tersebut terbatas pada
empat hal saja, yaitu umur, rezeki, ajal serta kesengsaraan dan
kebahagiaan. Dan ditambah dengan persoalan jodoh pun berada di antar
empat hal tersebut.
Di dalam hadis tentang penciptaan
janin, beliau bersabda, “Pada bulan keempat malaikat datang kepadanya,
lalu meniupkan padanya ruh. Dia bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apakah dia
laki-laki atau perempuan? Sengsara atau bahagia? Apa rezekinya? Apa
amalannya? Apa ajalnya?’ Maka Al-Haqq mendiktekan dan malaikat itu
menuliskan. Beliau bersabda, “Tuhanmu mengisi penciptaan, akhlak,
rezeki, ajal, dan kesengsaraan atau kebahagiaan.”
Di dalam
hal-hal parsial Allah Swt. berfirman, “Kami akan memperhatikan
sepenuhnya kepadamu wahai manusia dan jin.” (QS Al-Rahmaan [55]: 31).
Oleh
karena itulah maka aspek-aspek parsial itu tidak terbatas maka tidak
tertentu sebutannya, Kemunculan sebagiannya dan perolehannya oleh
manusia kadang-kadang bergantung pada sebab dan syarat. Barangkali doa,
usaha, dan muamalah adalah termasuk bagian darinya. Artinya, hal itu
tidaklah ditentukan perolehannya tanpa adanya syarat itu, berbeda dengan
empat hal pertama. Bagi manusia dan makhluk lain yang biasa bekerja
keras, di dalam empat hal itu tidak ada tujuan, kerja keras, dan usaha.
Melainkan hal itu merupakan akibat qadha dan qadar dari Allah
berdasarkan ilmu-Nya yang terdahulu dan telah tertentu secara azali dan
abadi menurut keterkaitan dengan objeknya.
Inilah perbedaan antara apa yang dilarang Nabi Saw. untuk didoakan dan yang dianjurkannya.
Maka
marilah kita kaji persoalan ini. Telah kita jelaskan bahwa di dalam hal
itu terdapat ilmu dan rahasia. Jika kita perhatikan, niscaya akan kita
ketahui sejumlah rahasia dari perintah, larangan, nasihan, anjuran,
ancaman, dan sebagainyaa. Allah mengatakan yang benar dan menunjukki
siapa saja yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.
Pert
anyaan
pertama yang timbul dalam pikiran kita adalah, apa sebenarnya
pengertian dari qadha dan qadar ? saya pribadi berpendapat bahwa qadha
bermakna, ketetapan yang digariskan pada diri manusia yang berbeda
antara satu makhluk dengan yang lainnya. Sedangkan qadar atau bisa kita
pahami dengan kadar, ukuran, kapasitas dan potensi manusia yang telah
Allah berikan, yang semua ini berkaitan erat dengan qadha atau ketetapan
yang telah Allah berikan kepada sang hamba. Bagaimana mekanisme
ketetapan Allah itu diterapkan dalam diri manusia secara universal,
Berikut
ini kisah perjalanan hidup Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib r.a. dia berkata: Ketika
kami mengikuti sebuah pemakaman jenazah di Baqi’ al-Gharqad, saat itu
Nabi Saw. duduk sedang kami mengelilinginya. Kemudian beliau memegang
tongkat kecil yang digunakannya utuk mengorek-ngorek tanah lalu
bersabda, “Tiada seorang pun di antara kalian, bahkan tidak ada suatu
jiwa manusia melainkan sudah ditentukan tempatnya di sorga atau neraka,
nasib baik atau celaka.
Salah satu sahabatnya bertanya,
“Ya Rasulullah, apakah tidak lebih baik kita menyerah saja pada
ketentuan itu dan tidak usah beramal? Maka jika ia beruntung, akan
sampai kepada keuntungannya, dan bila celaka maka akan sampai pada
binasanya. Maka Nabi Saw. bersabda, “Adapun mereka yang telah tercatat
sebagai orang yang beruntung, maka akan dimudahkan jalan kepada
keberuntungannya, sedangkan mereka yang menjadi orang yang celaka, maka
akan dimudahkan pula pada jalan kecelakaannya.
Kemudian Nabi Saw. membaca ayat suci,
‘Adapun
orang yang suka berderma dan bertakwa dan membenarkan kebaikan, maka
akan Kami mudahkan baginya segala amal kebaikan. Adapun orang yang
bakhil dan merasa kaya, maka akan Kami mudahkan baginya jalan yang
sempit lagi sukar…(QS Al-Lail [92]: 5 – 10).
Memahami
hadis di atas, tidak berarti kita hanya pasrah saja terhadap ketentuan
Allah tersebut, karena ketika kita lahir, kita sama sekali buta dengan
qadha atau ketetapan Allah tersebut! Apakah kita termasuk ahli surga
atau ahli neraka? Penentuan kita sebagai penghuni surga atau neraka,
berada pada dataran pengetahuan Allah semata! Kita hanya mampu memahami
tanda-tanda kecilnya saja dari ketetapan Allah tersebut.
Pada
tahap awal kehidupan kita pun, Allah tidak menjelaskannya kecuali hanya
diberi kebebasan untuk memilih antara dua jalan. Jalan kesesatan atau
jalan petunjuk….
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah mereka yang
mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya…” (QS Al-Syams [91]: 8 – 10).
Di sinilah
garis kebebasan manusia berjalan. Akal dan hati nurani yang akan
memutuskan jalan mana yang akan kita tempuh, apakah jalan kebaikan atau
sebaliknya jalan keburukan yang selalu kita capai.
Dalam
dataran ini pula ketika kita berada dalam kebutaan tentang jalan, kita
akan menggantungkan sepenuhnya pada Dia yang Maha Tahu, dan memberikan
jalan yang Dia ridlai, inilah apa yang kita sebut dengan shiratal
mustaqim. Allah pun akan memberikan jalan-Nya sesuai dengan seberapa
besar perjuangan sang hamba dalam mendekati Dia.
Maka pada
hari perhitungan nanti, akan kita temukan sebuah kesepakatan yang tidak
terelakan lagi. Sebuah kepastian dan ini yang menunjukkan ke-Mahatahuan
Allah Swt. akan masa lalu dan masa depan hingga akhir zaman nanti.
Sebuah keniscayaan bahwa pastilah keadilan Allah akan berjalan. Apa yang
manusia lakukan di muka bumi dimana mereka yang berkehendak penuh, baik
keburukan atau pun ketakwaan, pasti akan berkesesuaian dengan ketetapan
yang telah digariskan pada usia 4 bulan kehamilan bayi!
Dalam
sisi inilah Allah Mahatahu bahwa seorang hamba “A” yang telah
ditetapkan di alam lahir sebagai seorang ulama besar, dia akan
menjalankan kehidupannya pun sejalan dengan arah ketetapan tersebut,
dimudahkan pada proses menjadi ulama dan sebaliknya akan dipersulit
untuk menjadi seorang penjahat.
Pada tataran kehidupan
dunia, Allah memberi kebebasan kepada sang hamba tersebut untuk berbuat
sekehendaknya sesuai dengan kapasitas atau kadar akal yang dia miliki.
Kalau pun ada peran Allah di sana, itu bergantung pada kedekatan sang
hamba untuk bertaqarrub dengan Sang Pencipta, dan mohon bimbingan untuk
dimudahkan pada misi hidup dan ketetapan yang telah Allah gariskan di
alam azalinya.
Dalam hadis yang lain lebih tegas lagi
Rasulullah menjelaskan tentang persoalan ketetapan dan kadar hamba
Allah. Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Imran bin Hushain r.a.
berkata,
“Apakah sekarang ini sudah diketahui mana ahli
surga dan ahli neraka?” Jawab Nabi Saw. “Ya!” Lalu ia bertanya kembali,
“Lalu untuk apakah orang beramal?” Jawab Nabi Saw., “Tiap orang beramal
untuk apa yang telah diciptakan Allah baginya, atau untuk mencapai apa
yang dimudahkan oleh Allah baginya.”
Dari beberapa
penjelasan hadis dan ayat Alquran di atas kita dapat memahami bahwa
Allah telah menetapkan qadha-Nya yang tidak bisa kita rubah, demikian
pula dengan kadar yang telah Allah anugerahkan kepada kita, harus kita
syukuri apa adanya.
Namun yang harus kita pahami bahwa
takdir yang telah Allah tetapkan itu haruslah kita cari, Kita tidak
diperkenankan untuk menyerah kepada ketentuan Allah, sebagaimana
dilakukan oleh kaum jabariyah, tapi justru kita harus mencari apa
sebenarnya ketetapan yang telah Allah gariskan kepada kita, karena kita
benar-benar tidak diberi pengetahuan sedikitpun oleh Allah ketika kita
hidup, tapi kita sendiri yang harus berjuang untuk menemukannya dan
mendapatkan penjelasan tentang takdir kita tersebut.
Dan
Rasulullah pun menjelaskan apa yang semestinya dilakukan, yaitu
sebenarnya kemudahan apa yang telah Allah kadarkan buat kita? Kita harus
berjuang untuk menemukan kemudahan dalam hidup kita itu sebenarnya apa,
maka kemudahan itulah yang akan mengantarkan kita pada takdir Allah.
Demikian
pula kalau kita tarik pada persoalan misi hidup manusia di muka bumi,
sebagai khalifah, sebagai pemakmur bumi, sebagai saksi Allah, itu semua
berkaitan erat dengan konsep pemakmuran bumi sesuai dengan kemudahan
yang kita peroleh dari Dia Sang Pencipta.
Sehingga kalau
kita dimudahkan dalam bidang teknologi misalnya, kita akan bisa menjadi
seorang khalifah dalam urusan teknologi, sebagai pemakmur bumi dalam
urusan tersebut, dan otomatis kita juga dapat menjadi saksi akan
ke-Mahabesaran Allah pada aspek teknologi yang kita jalankan, dengan
energi yang seminimal mungkin karena Allah telah memudahkan bekerja di
bidang tersebut, dan hasil yang kita capai pun akan maksimal. Inilah
konsep misi hidup yang berkaitan erat dengan qadha dan qadar yang telah
Allah tetapkan buat kita.
Dan kaitannya dengan musibah,
bahwa ada bentuk musibah yang memang sudah ditetapkan oleh Allah, tapi
juga ada musibah yang terjadi akibat perbuatan diri sendiri. atau
menurut pendapat lain disebutkan bahwa ada tiga jenis ujian, dilihat
dari perbuatan manusia atau apa yang telah ditetapkan kepada manusia:
1.
Yang pertama, adalah Allah menurunkan musibah sebagai bentuk ujian.
Menguji ketahanan seorang hamba, apakah dia benar-benar bergantung hanya
kepada Allah tidak. Menguji dia agar kuat dalam tempaan kesulitan dan
kepayahan. Agar dia selalu merasa kecil dan akhirnya selalu membutuhkan
kehadiran Sang Maha Kuasa.
2. Kedua, adalah peringatan.
Agar seorang hamba lebih berhati-hati terhadap masa depannya, karenanya
dia diingatkan sedini mungkin akan akibat keteledoran atau akibat
ketidak hati-hatiannya dalam menjalankan hidup.
3. Bentuk
adzab. Kadang ketika manusia lalai dan akhirnya melakukan sebuah dosa,
maka atas kemurahan-Nyalah Allah memberinya musibah sebagai kafarat
pembersih dosa yang telah dia lakukan.
Oleh karena itu, bagi
mereka yang merindukan perjumpaan dengan Ilahi Rabbi, merindukan
kedekatan dengan-Nya, dia tidak akan pernah khawatir dengan apa yang
akan menimpanya keesokan harinya. apakah musibah atau anugerah. Yang
selalu dia pikirkan, apakah amalnya Allah kehendaki atau tidak.
Akhirnya,
saya tutup kajian singkat ini dengan petikan hadis qudsi, dimana Allah
berfirman kepada malaikat-Nya, “Pergilah kepada hamba-Ku. Lalu
timpakanlah bermacam-macam ujian kepadanya karena Aku rindu mendengar
suaranya…” (HQR Thabrani yang bersumber dari Abu Umamah r.a.)
Nabi
juga pernah bersabda, “Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa kaum
Mu’minin pria atau wanita, yang mengenai dirinyaa, hartanya, anaknya,
tetapi ia tetap bersabar, ia akan menemui Allah dalam keadaan tidak
berdosa. (HR Thurmudzi).
Wallahu A’lam bish-Shawab.
Referensi:
1. Alquran al-Karim, dan terjemahannya terbitan Saudi Arabia.
2. Hadis Qudsi, KHM Ali Usman dkk, CV Diponegoro, Bandung, 1996
3. Pancaran Spiritual, Telaah 40 Hadis Sufistik, Shadrr ad-Din al-Qunawi, Penerbit Lentera, Jakarta, 1998
4. Al-Lu’lu wal Marjan, Muhammad Fuad Abdul Baqi, PT Bina Ilmu, Jakarta, 1982
5. Catatan Kajian Tasawuf, Drs. Zamzam Ahmad Jamaluddin, Msi, Bandung, 1993
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar